Naikkan Produksi Gabah 50-150 Persen

Untuk mendukung program ketahanan dan kedaulatan pangan negara Indonesia, teknologi IPAT-BO (Intensifikasi Padi Aerob Terkendali-Berbasis Organik) akhirnya diperkenalkan di pulau Sumatera. Pilot project atau lahan percobaan pertama sebelum percontohan (pra-demplot) untuk wilayah ini dilaksanakan oleh pemerhati ketahanan pangan, Dr Willem Panjaitan DTM&H, bersama warga petani di Sei Martebing Desa Paya Bagas Kecamatan Tebingtinggi Kabupaten Serdangbedagai, Sumatera Utara.

Teknologi pengembangan budidaya pertanaman padi IPAT-BO ini adalah temuan putra asal Samosir-Sumut, Prof Dr Ir Tualar Simarmata MSc, pakar Bioteknologi Tanah yang juga salah seorang Guru Besar Universitas Padjajaran Bandung. Dikatakannya, teknologi IPAT-BO ini sebenarnya pengembangan lebih lanjut dari teknologi SRI (System of Rice Intensification).

Dalam perbincangannya dengan Global di sela-sela panen perdana lahan percobaan di Sei Martebing Desa Paya Bagas Kecamatan T Tinggi Kabupaten Sergai, Selasa (19/2), Dr Willem Panjaitan DTM&H serta Prof Tualar Simarmata (pelaksana percobaan dan penemu) mengatakan, motivasi mereka menularkan teknologi ini di Sumatera, khususnya Provinsi Sumut adalah keinginan yang kuat untuk mewujudkan ketahanan pangan bagi negeri ini, sekaligus mengantisipasi peralihan fungsi lahan pangan yang belakangan semakin mewabah, bahkan mencapai angka 40 ribu hektar sawah per tahun.

Diterangkannya lebih lanjut, data statistik terakhir menyebutkan bahwa jumlah penduduk Indonesia mencapai 232 juta jiwa, dengan laju pertumbuhan sekitar 1,3 sampai 1,5 persen. Untuk bisa memenuhi kebutuhan penduduk yang tingkat konsumsi berasnya sekitar 135 kg per tahun, maka setiap tahun negara ini harus mampu menambah jumlah produksi padi 3 juta ton gabah kering giling (GKG), atau setara dengan 1,8 juta ton beras. Mencapai hal ini, diperlukan penambahan areal sawah seluas 600 ribu hektar. Jika tidak, dikhawatirkan negeri ini akan dilanda krisis pangan pada tahun 2017 mendatang.

Lebih lanjut dijelaskan, selama kurun waktu 2006-2007, penerapan teknologi IPAT-BO di luar Jawa telah meningkatkan hasil panen 3 sampai 4 kali lipat, sementara di Jawa rata-rata meningkat 2 kali lipat. Hingga saat ini, teknologi IPAT-BO sudah diterapkan para petani di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Utara, Kalimantan Barat, NTB dan NTT dengan hasil yang sangat memuaskan.

Prof Tualar mengatakan, keunggulan teknologi ini dapat meningkat juga menghemat pemakaian air hingga 25 persen, hemat pupuk kimia lebih dari 50 persen, hemat bibit hingga 90 persen (karena memakai 1 bibit untuk 1 lubang tanam), panen lebih awal 7-10 hari.

Kata Dr Willem, teknologi IPAT-BO sangat cocok diterapkan untuk membangun kemandirian pangan. Untuk mencapai swasembada pangan dengan luas panen 11 juta hektar, produktivitas harus mencapai 6 sampai 8 ton per hektar. Sementara untuk bisa menjadi eksportir beras, produktivitas harus ditingkatkan menjadi 8 hingga 12 ton per hektar.

Sumber : http://www.harian-global.com/news.php?extend.35057

Iklan