Program IPAT-BO Hasilkan 7 Ton Per Hektar

PANEN PERDANA. Bupati Gowa, H Ichsan Yasin Limpo saat melakukan 0304panenperdanagowapanen perdana padi IPAT-BO di Kelurahan Bontoramba, Kamis (2/4) kemarin.
GOWA, Upeks–Kegiatan program peningkatan produksi padi yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gowa melalui Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura (PTPH) pada Musin Tanam (MT) rendengan 2008-2009 dengan penerapan paket teknologi Intensifikasi Padi Aerob Terkendali Berbasis Organik (IPAT-BO) berhasil mencatat produksi 7 ton per hektar dalam bentuk Gabah Kering Giling (GKG).


Dari hasil ujicoba IPAT-BO yang dilaksanakan 18 kecamatan yang ada di daerah ini dan tersebar pada 168 lokasi, di mana setiap lokasi diujicobakan 2 hektar, tingkat produksi rata-rata mencapai 7 ton per hektar dengan umur tanam hanya 113 hari.
Keberhasilan Gowa dalam ujicoba IPAT-BO ini terungkap dalam panen perdana padi program IPAT-BO dan Biotech di Kelurahan Bontoramba, Kecamatan Somba Opu, Kamis (2/4) yang dihadiri oleh Bupati Gowa, Ichsan Yasin Limpo.
Selain itu hadir pula, Gubernur Sulsel, Syahrul Yasin Limpo dan juga Pandam VII Wirabuana, Mayjen TNI Joko Susilo Utomo.
Bupati Gowa, Ichsan Yasin Limpo pada kesempatan itu, mengatakan, penerapan program IPAT-BO dan Biotech ini merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan produksi padi di daerah ini sekaligus untuk menunjang pencapaian peningkatan surplus beras 2 juta ton yang dicanangkan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sulsel.
Dalam mendukung gerakan surplus beras 2 juta ton itu, Pemkab Gowa kata Ichsan memiliki sasaran produksi padi sebesar 317.817 ton gabah kering giling dengan luas panen mencapai 52.210 hektar atau tingkat produktivitas mencapai 60,87 KW per hektar. “Angka ini bisa kita capai karena dari beberapa hasil ubinan IPAT-BO produktivitas dapat mencapai di atas 7 ton per hektar gabang kering panen,” kata Ichsan.
Sementara itu, Kepala Dinas PTPH Gowa, Mapparenta dalam laporannya menyampaikan program IPAT-BO dan Biotech yang dilaksanakan di daerah ini pada musim tanam 2008-2009 ini mendapatkan bantuan dari Pemprov Sulsel dengan luas areal mencapai 336 hektar. Adapun jenis varietas yang ditanam dalam ujicoba ini ada tiga jenis, masing-masing, cigeulis, cisantana dan ciherang.
Dalam teknologi IPAT-BO ini lanjut Mapparenta menggunakan benih sebanyak 15 Kg per hektar, pupuk urea 100 Kg per hektar serta pupuk amazing bio growth lima jenis di setiap lokasi. Umur bibit katanya dipindahkan 12 hari dengan jarak tanam 30×30 Cm dan pemberian air tidak menggenangi petakan sawah. (Aspar)
Sumber : ujungpandangekspres.com

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s