Budidaya Ketela Pohon(Manihot utilissima Pohl)

1. SEJARAH SINGKAT

Ketela pohon merupakan tanaman pangan berupa perdu dengan nama lain ubi kayu, singkong atau kasape. Ketela pohon berasal dari benua Amerika, tepatnya dari negara Brazil. Penyebarannya hampir ke seluruh dunia, antara lain: Afrika, Madagaskar, India, Tiongkok. Ketela pohon berkembang di negara-negara yang terkenal wilayah pertaniannya dan masuk ke Indonesia pada tahun 1852.

2. JENIS TANAMAN

Klasifikasi tanaman ketela pohon adalah sebagai berikut:

Kingdom : Plantae atau tumbuh-tumbuhan
Divisi : Spermatophyta atau tumbuhan berbiji
Sub divisi : Angiospermae atau berbiji tertutup
Kelas : Dicotyledoneae atau biji berkeping dua
Ordo : Euphorbiales
Famili : Euphorbiaceae
Genus : Manihot
Spesies : Manihot utilissima Pohl.; Manihot esculenta Crantz sin.

Varietas-varietas ketela pohon unggul yang biasa ditanam, antara lain: Valenca, Mangi, Betawi, Basiorao, Bogor, SPP, Muara, Mentega, Andira 1, Gading, Andira 2, Malang 1, Malang 2, dan Andira 4

3. MANFAAT TANAMAN

Di Indonesia, ketela pohon menjadi makanan bahan pangan pokok setelah beras dan jagung. Manfaat daun ketela pohon sebagai bahan sayuran memiliki protein cukup tinggi, atau untuk keperluan yang lain seperti bahan obat-obatan. Kayunya bisa digunakan sebagai pagar kebun atau di desa-desa sering digunakan sebagai kayu bakar untuk memasak. Dengan perkembangan teknologi, ketela pohon dijadikan bahan dasar pada industri makanan dan bahan baku industri pakan. Selain itu digunakan pula pada industri obat-obatan.
4. SENTRA PENANAMAN

Di dunia ketela pohon merupakan komoditi perdagangan yang potensial. Negara-negara sentra ketela pohon adalah Thailand dan Suriname. Sedangkan sentra utama ketela pohon di Indonesia di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

5. SYARAT PETUMBUHAN

5.1. Iklim

a) Curah hujan yang sesuai untuk tanaman ketela pohon antara 1.500-2.500 mm/tahun.

b) Suhu udara minimal bagi tumbuhnya ketela kohon sekitar 10 derajat C. Bila suhunya di bawah 10 derajat C menyebabkan pertumbuhan tanaman sedikit terhambat, menjadi kerdil karena pertumbuhan bunga yang kurang sempurna.

c) Kelembaban udara optimal untuk tanaman ketela pohon antara 60-65%.

d) Sinar matahari yang dibutuhkan bagi tanaman ketela pohon sekitar 10 jam/hari terutama untuk kesuburan daun dan perkembangan umbinya.

5.2. Media Tanam

a) Tanah yang paling sesuai untuk ketela pohon adalah tanah yang berstruktur remah, gembur, tidak terlalu liat dan tidak terlalu poros serta kaya bahan organik. Tanah dengan struktur remah mempunyai tata udara yang baik, unsur hara lebih mudah tersedia dan mudah diolah. Untuk pertumbuhan tanaman ketela pohon yang lebih baik, tanah harus subur dan kaya bahan organik baik unsur makro maupun mikronya.

b) Jenis tanah yang sesuai untuk tanaman ketela pohon adalah jenis aluvial latosol, podsolik merah kuning, mediteran, grumosol dan andosol.

c) Derajat keasaman (pH) tanah yang sesuai untuk budidaya ketela pohon berkisar antara 4,5-8,0 dengan pH ideal 5,8. Pada umumnya tanah di Indonesia ber-pH rendah (asam), yaitu berkisar 4,0-5,5, sehingga seringkali dikatakan cukup netral bagi suburnya tanaman ketela pohon.

5.3. Ketinggian Tempat
Ketinggian tempat yang baik dan ideal untuk tanaman ketela pohon antara 10–700 m dpl, sedangkan toleransinya antara 10–1.500 m dpl. Jenis ketela pohon tertentu dapat ditanam pada ketinggian tempat tertentu untuk dapat tumbuh optimal.

6. PEDOMAN BUDIDAYA

6.1. Pembibitan

1. Persyaratan Bibit
Bibit yang baik untuk bertanam ketela pohon harus memenuhi syarat sebagai berikut:

a) Ketela pohon berasal dari tanaman induk yang cukup tua (10-12 bulan).

b) Ketela pohon harus dengan pertumbuhannya yang normal dan sehat serta seragam.

c) Batangnya telah berkayu dan berdiameter + 2,5 cm lurus.

d) Belum tumbuh tunas-tunas baru.

2. Penyiapan Bibit
Penyiapan bibit ketela pohon meliputi hal-hal sebagai berikut:

a) Bibit berupa stek batang.

b) Sebagai stek pilih batang bagian bawah sampai tengah.

c) Setelah stek terpilih kemudian diikat, masing-masing ikatan berjumlah antara 25–30 batang stek.

d) Semua ikatan stek yang dibutuhkan, kemudian diangkut ke lokasi penanaman. Setelah direndam dengan

ABG-Daun dengan dosis 2 cc/L selama kurang lebih 30 menit sebelum di tanam.

6.2. Pengolahan Media Tanam

Persiapan
Kegiatan yang perlu dilakukan sebelum pengolahan lahan adalah:

a) Pengukuran pH tanah dilakukan dengan menggunakan kertas lakmus, pH meter dan cairan pH tester.

b) Penganalisaan jenis tanah pada contoh atau sempel tanah yang akan ditanami untuk mengetahui ketersediaan unsur hara, kandungan bahan organik.

c) Penetapan jadwal/waktu tanam berkaitan erat dengan saat panen. Hal ini perlu diperhitungkan dengan asumsi waktu tanam bersamaan dengan tanamanlainnya (tumpang sari), sehingga sekaligus dapat memproduksi beberapa variasi tanaman yang sejenis.

d) Luas areal penanaman disesuaikan dengan modal dan kebutuhan setiap petani ketela pohon. Pengaturan volume produksi penting juga diperhitungkan karena berkaitan erat dengan perkiraan harga pada saat panen dan pasar. Apabila pada saat panen nantinya harga akan anjlok karena di daerah sentra penanaman terjadi panen raya maka volume produksi diatur seminimal mungkin.

Pembukaan dan Pembersihan Lahan

Pembukaan lahan pada intinya merupakan pembersihan lahan dari segala macam gulma (tumbuhan pengganggu) dan akar-akar pertanaman sebelumnya. Tujuan pembersihan lahan untuk memudahkan perakaran tanaman berkembang dan menghilangkan tumbuhan inang bagi hama dan penyakit yang mungkin ada. Pembajakan dilakukan dengan hewan ternak, seperti kerbau, sapi, atau pun dengan mesin traktor. Pencangkulan dilakukan pada sisi-sisi yang sulit dijangkau, pada tanah tegalan yang arealnya relatif lebih sempit oleh alat bajak dan alat garu sampai tanah siap untuk ditanami.

Pembentukan Bedengan

Bedengan dibuat pada saat lahan sudah 70% dari tahap penyelesaian. Bedengan atau pelarikan dilakukan untuk memudahkan penanaman, sesuai dengan ukuran yang dikehendaki. Pembentukan bedengan/larikan ditujukan untuk memudahkan dalam pemeliharaan tanaman, seperti pembersihan tanaman liar maupun sehatnya pertumbuhan tanaman.

Pengapuran

Untuk menaikkan pH tanah, terutama pada lahan yang bersifat sangat masam/tanah gembut, perlu dilakukan pengapuran. Jenis kapur yang digunakan adalah kapur kalsit/kaptan (CaCO3). Dosis yang biasa digunakan untuk pengapuran adalah 1-2,5 ton/ha. Pengapuran diberikan pada waktu pembajakan atau pada saat pembentukan bedengan kasar bersamaan dengan pemberian pupuk kandang.

6.3. Teknik Penanaman

Penentuan Pola Tanam

Pola tanaman harus memperhatikan musim dan curah hujan. Pada lahan tegalan/kering, waktu tanam yang paling baik adalah awal musim hujan atau setelah penanaman padi. Jarak tanam yang umum digunakan pada pola monokultur ada beberapa alternatif, yaitu 100 X 100 cm, 100 X 60 cm atau 100 X 40 cm. Bila pola tanam dengan sistem tumpang sari bisa dengan jarak tanam 150 X 100 cm atau 300 X 150 cm.

Cara Penanaman

Cara penanaman dilakukan dengan meruncingkan ujung bawah stek ketela pohon kemudian tanamkan sedalam 5-10 cm atau kurang lebih sepertiga bagian stek tertimbun tanah. Bila tanahnya keras/berat dan berair/lembab, stek ditanam dangkal saja.

6.4. Pemeliharaan Tanaman

Penyiangan
Penyiangan bertujuan untuk membuang semua jenis rumput/ tanaman liar/pengganggu (gulma) yang hidup di sekitar tanaman. Dalam satu musim penanaman minimal dilakukan 2 (dua) kali penyiangan.

Pembubunan
Cara pembubunan dilakukan dengan menggemburkan tanah di sekitar tanaman dan setelah itu dibuat seperti guludan. Waktu pembubunan dapat bersamaan dengan waktu penyiangan, hal ini dapat menghemat biaya. Apabila tanah sekitar tanaman Ketela pohon terkikis karena hujan atau terkena air siraman sehingga perlu dilakukan pembubunan/di tutup dengan tanah agar akar tidak kelihatan.

Perempalan/Pemangkasan
Pada tanaman Ketela pohon perlu dilakukan pemangkasan/pembuangan tunas karena minimal setiap pohon harus mempunyai cabang 2 atau 3 cabang. Hal ini agar batang pohon tersebut bisa digunakan sebagai bibit lagi di musim tanam mendatang.

Pemupukan

  1. Pemupukan dilakukan dengan sistem pemupukan berimbang antara N, P, K dengan dosis Urea=133–200 kg; TSP=60–100 kg dan KCl=120–200 kg. Pupuk tersebut diberikan pada saat tanam dengan dosis N:P:K= 1/3 : 1 : 1/3 (pemupukan dasar) dan pada saat tanaman berumur 2-3 bulan yaitu sisanya dengan dosis N:P:K= 2/3 : 0 : 2/3.
  2. Dengan ABG-Daun dengan dosis 4 cc/L disemprotkan setiap 20-30 hari sekali dengan pemberian pupuk kimia dikurangi 20-30% dari dosis biasa.
  3. Setelah umur 5 bulan untuk pengisian umbi disemprot dengan ABG-Bunga&Buah dengan dosis 4 cc/L disemprotkan atau disiramkan setiap 20-30 hari sekali sampai siap panen.
  4. Untuk mencegah penyakit pada tanaman ketela sebaiknya dilakukan pencegahan setiap satu bulan sekali dengan cara:
  • ABG-BIO dengan cara melarutkan (1–2) bungkus ABG-BIO + 1 kg dedak + 2 kg ABG-Bios + (5–10) tutup ABG-B, dalam (50-100) liter air, aduk secara merata, dan biarkan sekitar (2-4) jam. Kemudian siramkan sebanyak (25–50) cc/tanaman pada perakaran tanaman dengan interval 1 bulan sekali

Pengairan dan Penyiraman

Kondisi lahan Ketela pohon dari awal tanam sampai umur + 4–5 bulan hendaknya selalu dalam keadaan lembab, tidak terlalu becek. Pada tanah yang kering perlu dilakukan penyiraman dan pengairan dari sumber air yang terdekat. Pengairan dilakukan pada saat musim kering dengan cara menyiram langsung akan tetapi cara ini dapat merusak tanah. Sistem yang baik digunakan adalah sistem genangan sehingga air dapat sampai ke daerah perakaran secara resapan. Pengairan dengan sistem genangan dapat dilakukan dua minggu sekali dan untuk seterusnya diberikan berdasarkan kebutuhan.

Waktu Penyemprotan Pestisida

Jenis dan dosis pestisida disesuaikan dengan jenis penyakitnya. Penyemprotan pestisida paling baik dilakukan pada pagi hari setelah embun hilang atau pada sore hari. Dosis pestisida disesuaikan dengan serangan hama dan penyakit, baca dengan baik penggunaan dosis pada label merk obat yang digunakan. Apabila hama dan penyakit menyerang dengan ganas maka dosis pestisida harus lebih akan tetapi penggunaannya harus hati-hati karena serangga yang menguntungkan dapat ikut mati.

Iklan

APLIKASI ABG-TAMBAK MELALUI PAKAN

  • Fase Stadium Benih
    1. Pemberian Melalui PAKAN
  • Tujuan : menumbuhkan Phytoplankton, zooplankton dan hewan kecil yang merupakan pakan dari benih.
  • Berikan ABGT dosis 5-10 cc untuk campuran 3-5 Kg Pakan dengan cara larutkan ABG dengan air kemudian semprotkan larutan secara merata ke permukaan pakan hingga basah dan biarkan 30 menit atau hingga kering.
  • Berikan pakan tersebut ke dalam tambak.
  • Berikan setelah pengolahan lahan (pembalikan& pengapuran) saat tanah di berikan Urea 20gr/m2, SP-36 10gr/m2, dan ABGT 2 liter/Ha.
  • Pemberian ABGT melalui Pakan dengan dosis 3-5 cc untuk 3-5 kg Pakan. Interval 2x satu minggu.
  • Pemberian langsung ke air kolam dilakukan 3-4 minggu setelah tebar benur dengan dosis 1-2 liter/Ha. Dengan cara dilarutkan terlebih dahulu setelah itu baru disebar.
  • Pemberian ABGT melalui Pakan dengan dosis 5-10cc untuk 3-5 kg Pakan. Interval 2x satu minggu.
  • Pemberian langsung ke air kolam dilakukan 3-4 minggu setelah tebar benur dengan dosis 1-2 liter/Ha. Dengan cara dilarutkan terlebih dahulu setelah itu baru disebar.
  • Fase Pendederan dan Pembesaran
  1. Pada Kolam Tanah
  • Berikan setelah pengolahan lahan (pembalikan& pengapuran) saat tanah di berikan Urea 20gr/m2, SP-36 10gr/m2, dan ABGT 2 liter/Ha.
  • Pemberian ABGT melalui Pakan dengan dosis 3-5 cc untuk 3-5 kg Pakan. Interval 2x satu minggu.

Pemberian langsung ke air kolam dilakukan 3-4 minggu setelah tebar benur dengan dosis 1-2 liter/Ha. Dengan cara dilarutkan terlebih dahulu setelah itu baru disebar

  • Fase Pendederan dan Pembesaran
    1. Pada Kolam Beton 
    • Pemberian ABGT melalui Pakan dengan dosis 5-10cc untuk 3-5 kg Pakan. Interval 2x satu minggu.
    • Pemberian langsung ke air kolam dilakukan 3-4 minggu setelah tebar benur dengan dosis 1-2 liter/Ha. Dengan cara dilarutkan terlebih dahulu setelah itu baru disebar.

Mudahnya Memupuk di Halaman Anda dengan ABG

Teknolgi Peningkatan Produksi Taman (TP2-ABG Taman):

  1. ABG-Bunga & Buah

Bunga dan Buah untuk meningkatkan pertumbuhan generatif (pada saat berbunga dan pada saat menjelang berbuah) serta meningkatkan pasokan hara tanaman.

Efisiensi pemupukan (dapat mengurangi penggunaan pupuk NPK sekitar 25%)

  • Perangsang pertumbuhan bunga dan buah.
  • Nutrisi ini dapat memperkuat warna asli bunga dan meningkatkan daya tahannya sehingga tidak mudah rontok dan dapat menghasilkan buah yang baik.

KANDUNGAN

2 % C-org, 8% N, 8% P2O5, 14 % K2O, 1% CaO, 0,8% MgO, 1% S dan mikro element (B, Fe, Zn, Mn, Mo, Cu), asam-asam amino, asam humat  dan senyawa bioaktif (GA3 800 ppm).

 

MANFAAT

  • Meningkatkan pertumbuhan akar, pembungaan dan pembuahan.
  • Meningkatkan kualitas bunga (ukuran, warna), buah, umbi dan  citarasa.
  • Mengurangi kerontokan bunga, buah dan gabah padi.
    • Meningkatkan pengisian gabah (padi), polong, buah dan umbi (bawang dan kentang).
    • Meningkatkan, efisiensi pemupukan, kesehatan tanaman dan resistensi terhadap serangan hama dan penyakit.
    • Digunakan menjelang tanaman berbunga (2-3 kali aplikasi)

APLIKASI :

  • Digunakan menjelang tanaman berbunga (2 – 3 kali aplikasi) dengan interval 10 hari untuk tanaman semusim, sedangkan untuk tanaman tahunan interval 20 – 30 hari
  • Gunakan konsentrasi 1 – 2 cc/L air, disiramkan dengan emrat atau alat lainnya secara merata sekitar 3–4 kali  dengan interval 10 hari – 14 hari. Untuk tanaman cabai, tomat, kentang sekitar 50  – 150 mL per tanaman
  • Tanaman Tahunan. Gunakan konsentrasi 2 – 4  cc/L air, disiramkan pada daerah perakaran sekitar 0,5 – 10 L larutan per tanaman untuk tanaman dilapangan (disesuaikan dengan umur tanaman), sedangkan untuk tanaman dalam pot dan pembibitan sekitar 100 ml – 500 ml larutan per tanaman. Interval aplikasi 1 – 2 bulan (2 kali menjelang tanaman berbunga dengan interval 20 hari) dan setelah musim buah (panen) diberikan dua kali dengan interval 20 hari. Untuk merabilitasi tanaman yang kurang produktif berikan dengan konsentrasi di atas 3 – 4 kali dengan interval aplikasi 10 – 14 hari

 

 

2.  ABG-Tablet

Gabungan pupuk organik, pupuk N P K dan biostimulan yang mampu menyediakan makanan untuk tanaman tahunan (tanaman perkebunan, tanaman buah, tanaman hias, tanaman industri dan tanaman sayuran) dalam jangka waktu lama.

ABG-TABLET bersifat lepas lambat (slow release) sehingga pemanfaatan nutrisi oleh tanaman efisien dan hara terhindar dari pencucian

Ramah lingkungan karena hara yang dilepaskan dari ABG-TABLET sebagian besar dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Aplikasi praktis.

 

MANFAAT

  • Sebagai pupuk organik untuk meningkatkan kesuburan fisik, kimia,    dan aktivitas mikroba tanah sehingga menguntungkan tanah (meningkatkan kualitas dan kesehatan tanah).
  • Sebagai pupuk utama tanaman baik hara makro (N,P,K,Ca,Mg,S) maupun mikro (B, Fe, Zn, Mn, Mo, Cu, Cl) dengan komposisi berimbang.
  • Sebagai biostimulan (zat pemacu tumbuh atau promotor of growth) untuk merangsang pertumbuhan dan regenerasi
  • Penggunaan hanya 25-30% dari dosis total pupuk tunggal (Urea, SP-   36 dan KCl) dan tidak perlu memakai pupuk tunggal lagi sehingga dapat menghemat biaya tenaga kerja, transportasi dan pengelolaan pemupukan (penggunaan mudah dan praktis)
  • Penggunaan 2-3 kali dalam setahun (pada awal musim    hujan/akhir musim hujan atau bulan basah).
  • Mempunyai dampak positif jangka panjang terhadap perbaikan struktur tanah dan kegemburan tanah karena mengandung bahan pembenah tanah (soil conditioner).

KANDUNGAN :

  • 10-15% C-org, 12% N, 10%P2O5, 15% K2O, 4% CaO, 2% MgO, 2% S, 0,2% B, 0,1% Cu, 0,1% Zn, 0,1% Fe, 0,1% Cl, 0,1% Mn, hormon giberelin, asam humat, fulvat, dan berbagai asam organik lainnya.

 

APLIKASI

  • Aplikasi 2-3 kali dalam setahun.
  • TBM (Tanaman belum menghasilkan) : Pupuk ditempatkan dalam lubang hingga sedalam (5–10) cm dengan jarak (20–30) cm dari tanaman pada (3–4) titik/tempat. Dosis disesuaikan dengan umur tanaman, yaitu meningkat 5 tablet/tahun.
  • TM (Tanaman Menghasilkan) : Pupuk ditempatkan dalam lubang hingga sedalam (5–10) cm dengan jarak (50–200) cm dari tanaman, pada (6–8) titik/tempat di sekeliling tanaman. (3–4) titik di bawah tajuk terluar, dan (3–4) titik antara tajuk terluar dengan batang. Dosis disesuaikan dengan umur tanaman, yaitu meningkat (5–10) tablet/tahun
  • Aplikasi untuk tanaman pot sekali dalam 3-4 bulan

Mudahnya Memupuk di Halaman Anda dengan ABG

Teknolgi Peningkatan Produksi Taman (TP2-ABG Taman):

  1. ABG-Bunga & Buah

Bunga dan Buah untuk meningkatkan pertumbuhan generatif (pada saat berbunga dan pada saat menjelang berbuah) serta meningkatkan pasokan hara tanaman.

Efisiensi pemupukan (dapat mengurangi penggunaan pupuk NPK sekitar 25%)

  • Perangsang pertumbuhan bunga dan buah.
  • Nutrisi ini dapat memperkuat warna asli bunga dan meningkatkan daya tahannya sehingga tidak mudah rontok dan dapat menghasilkan buah yang baik.

KANDUNGAN

2 % C-org, 8% N, 8% P2O5, 14 % K2O, 1% CaO, 0,8% MgO, 1% S dan mikro element (B, Fe, Zn, Mn, Mo, Cu), asam-asam amino, asam humat  dan senyawa bioaktif (GA3 800 ppm).

MANFAAT

  • Meningkatkan pertumbuhan akar, pembungaan dan pembuahan.
  • Meningkatkan kualitas bunga (ukuran, warna), buah, umbi dan  citarasa.
  • Mengurangi kerontokan bunga, buah dan gabah padi.
    • Meningkatkan pengisian gabah (padi), polong, buah dan umbi (bawang dan kentang).
    • Meningkatkan, efisiensi pemupukan, kesehatan tanaman dan resistensi terhadap serangan hama dan penyakit.
    • Digunakan menjelang tanaman berbunga (2-3 kali aplikasi)

APLIKASI :

  • Digunakan menjelang tanaman berbunga (2 – 3 kali aplikasi) dengan interval 10 hari untuk tanaman semusim, sedangkan untuk tanaman tahunan interval 20 – 30 hari
  • Gunakan konsentrasi 1 – 2 cc/L air, disiramkan dengan emrat atau alat lainnya secara merata sekitar 3–4 kali  dengan interval 10 hari – 14 hari. Untuk tanaman cabai, tomat, kentang sekitar 50  – 150 mL per tanaman
  • Tanaman Tahunan. Gunakan konsentrasi 2 – 4  cc/L air, disiramkan pada daerah perakaran sekitar 0,5 – 10 L larutan per tanaman untuk tanaman dilapangan (disesuaikan dengan umur tanaman), sedangkan untuk tanaman dalam pot dan pembibitan sekitar 100 ml – 500 ml larutan per tanaman. Interval aplikasi 1 – 2 bulan (2 kali menjelang tanaman berbunga dengan interval 20 hari) dan setelah musim buah (panen) diberikan dua kali dengan interval 20 hari. Untuk merabilitasi tanaman yang kurang produktif berikan dengan konsentrasi di atas 3 – 4 kali dengan interval aplikasi 10 – 14 hari


2.  ABG-Tablet

Gabungan pupuk organik, pupuk N P K dan biostimulan yang mampu menyediakan makanan untuk tanaman tahunan (tanaman perkebunan, tanaman buah, tanaman hias, tanaman industri dan tanaman sayuran) dalam jangka waktu lama.

ABG-TABLET bersifat lepas lambat (slow release) sehingga pemanfaatan nutrisi oleh tanaman efisien dan hara terhindar dari pencucian

Ramah lingkungan karena hara yang dilepaskan dari ABG-TABLET sebagian besar dapat dimanfaatkan oleh tanaman. Aplikasi praktis.

MANFAAT

  • Sebagai pupuk organik untuk meningkatkan kesuburan fisik, kimia,    dan aktivitas mikroba tanah sehingga menguntungkan tanah (meningkatkan kualitas dan kesehatan tanah).
  • Sebagai pupuk utama tanaman baik hara makro (N,P,K,Ca,Mg,S) maupun mikro (B, Fe, Zn, Mn, Mo, Cu, Cl) dengan komposisi berimbang.
  • Sebagai biostimulan (zat pemacu tumbuh atau promotor of growth) untuk merangsang pertumbuhan dan regenerasi
  • Penggunaan hanya 25-30% dari dosis total pupuk tunggal (Urea, SP-   36 dan KCl) dan tidak perlu memakai pupuk tunggal lagi sehingga dapat menghemat biaya tenaga kerja, transportasi dan pengelolaan pemupukan (penggunaan mudah dan praktis)
  • Penggunaan 2-3 kali dalam setahun (pada awal musim    hujan/akhir musim hujan atau bulan basah).
  • Mempunyai dampak positif jangka panjang terhadap perbaikan struktur tanah dan kegemburan tanah karena mengandung bahan pembenah tanah (soil conditioner).

KANDUNGAN :

  • 10-15% C-org, 12% N, 10%P2O5, 15% K2O, 4% CaO, 2% MgO, 2% S, 0,2% B, 0,1% Cu, 0,1% Zn, 0,1% Fe, 0,1% Cl, 0,1% Mn, hormon giberelin, asam humat, fulvat, dan berbagai asam organik lainnya.

APLIKASI

  • Aplikasi 2-3 kali dalam setahun.
  • TBM (Tanaman belum menghasilkan) : Pupuk ditempatkan dalam lubang hingga sedalam (5–10) cm dengan jarak (20–30) cm dari tanaman pada (3–4) titik/tempat. Dosis disesuaikan dengan umur tanaman, yaitu meningkat 5 tablet/tahun.
  • TM (Tanaman Menghasilkan) : Pupuk ditempatkan dalam lubang hingga sedalam (5–10) cm dengan jarak (50–200) cm dari tanaman, pada (6–8) titik/tempat di sekeliling tanaman. (3–4) titik di bawah tajuk terluar, dan (3–4) titik antara tajuk terluar dengan batang. Dosis disesuaikan dengan umur tanaman, yaitu meningkat (5–10) tablet/tahun
  • Aplikasi untuk tanaman pot sekali dalam 3-4 bulan

KEAJAIBAN ABG BUNGA BUAH

Pertumbuhan tanaman adalah suatu proses yang kompleks. Secara sederhana pertumbuhan tanaman dapat didefinisikan sebagai “suatu proses vital yang menyebabkan suatu perubahan yang tetap pada setiap tanaman atau bagiannya dipandang dari sudut ukuran, bentuk, berat dan volumenya”.

Pertumbuhan tanaman setidaknya menyangkut beberapa fase/proses diantaranya:
1. Fase pembentukan sel
2. Fase perpanjangan dan pembesaran sel

3. Fase diferensiasi sel

Semua fase atau proses pertumbuhan tanaman tentu akan dipengaruhi atau ditentukan oleh faktor-faktor pertumbuhan. Beberapa faktor pertumbuahan yang cukup mempengaruhi proses pertumbuhan tanaman adalah :

  1. Persediaan makanan/unsur hara
  2. Ketersediaan air.
  3. Cahaya matahari
  4. Suhu udara
  5. Oksigen.
  6. Hormon pertumbuhan.

Fase reproduktif atau generatif terjadi pada pembentukan dan perkembangan kuncup bunga, buah dan biji atau pada pembesaran dan pendewasaan struktur penyimpan makanan.

Fase ini berhubungan dengan proses:

(l) Pembelahan sel relatif ;

(2) Pendewasaan jaringan;

(3) Penebalan serabut ;

(4) Pembentukan hormon untuk perkembangan kuncup bunga ;

(5) Perkembangan kuncup bunga, buah dan biji serta alat penyimpan ;

(6) Pembentukan koloid hidrofilik.

Fase reproduktif ini memerlukan suplai karbohidrat, sehingga karbohidrat yang digunakan untuk perkembangan akar, batang, dan daun sebagian disisakan untuk perkembangan bunga, buah dan biji serta alat penyimpan.

  • Untuk tanaman yang hanya dipanen daunnya seperti kubis, selada, sawi kangkung dan bayam membutuhkan nilai rasio C/N yang rendah. Mengapa demikian? Pemberian pupuk yang mengandung unsur N tinggi akan membuat rasio C/N menjadi rendah sehingga dapat merangsang pertumbuhan vegetatif secara normal sehingga tanaman tersebut lebih difokuskan pada pembentukan daunnya, sehingga fase vegetatif dari tanaman tersebut dirangsang untuk lebih dominan.
  • Sedangkan untuk tanaman yang diambil buah, umbi maupun bunganya, fase generatif tanaman tersebut harus lebih diperhatikan. Disaat tanaman mulai memasuki masa generatif yang ditandai dengan munculnya bunga, maka pemberian pupuk K dan P dalam jumlah yang cukup akan memberikan hasil yang optimal saat fase generatif.

Kenapa ??

Karena Fungsi dari unsur P yaitu:

  • Memacu pertumbuhan akar dan pembentukan sistem perakaran yang lebih baik.
  • Mempercepat pembungaan dan pemasakan buah, biji, atau gabah.
  • Memperbesar prosentase pembentukan bunga menjadi buah.
  • Sebagai bahan penyusun inti sel, lemak, dan protein.

Fungsi dari unsur K yaitu:

  • Memperlancar fotosintesa.
  • Katalisator pembentukan protein dan karbohidrat.
  • Sebagai katalisator dalam transformasi tepung, gula, dan lemak tanaman.
  • Mengeraskan bagian kayu dari tanaman.
  • Meninggikan kualitas rasa dan warna dari buah dan bunga.
  • Meningkatkan daya tahan tanaman terhadap serangan hama, penyakit, dan kekeringan.
  • Pada tanaman unsur ini terkumpul pada titik tumbuh dan mempercepat pertumbuhan jaringan merismatik

Untuk memenuhi kebutuhan fase generatif itulah maka peranan pupuk cair ABG BUNGA BUAH mengandung P dan K dalam jumlah lebih besar ( 8% P2O5, 14 % K2O ). Selain itu ABG BUNGA BUAH juga mengandung unsur hara: 6 % C-org, 8% N, 8% P2O5, 14 % K2O, 1% CaO, 0,8% MgO, 1% S dan mikro element (B, Fe, Zn, Mn, Mo, Cu)

Maka keunggulan nutrisi  kandungan ABG BUNGA BUAH diantaranya :

  • Merangsang pertumbuhan akar, pembungaan dan pembuahan
  • Meningkatkan kualitas bunga (ukuran, warna), buah, umbi dan citarasa
  • Mengurangi kerontokan bunga, buah dan gabah padi
  • Meningkatkan pengisian gabah (padi), polong, buah dan umbi (bawang dan kentang)
  • Meningkatkan kesehatan tanaman dan resistensi terhadap serangan penyakit

Selain itu kandungan asam-asam amino, asam humat dan senyawa bioaktif (GA3 800 ppm) seperti hormon auxin, sitokinin dan giberelin. Fungsinya di fase generatif ini penambahan Hormon Sitokinin dan giberelin akan meningkatkan kapasitas jaringan penyimpanan hasil fotosintesa yang dipanen (umbi, buah dll) yaitu sitokinin akan memperbanyak sel jaringan penyimpanan dan giberelin akan memperbesar sel jaringan penyimpanan sehingga mampu menerima hasil-hasil fotosintesa lebih banyak yang berakibat ukuran jaringan penyimpanan (buah) lebih besar (semangka, kentang, dll) atau bernas (padi, jagung dll).

Penambahan Hormon Auxin, Sitokinin dan giberelin dan ditambah dengan penambahan unsur – unsur hara dari ABG BUNGA BUAH akan mencukupi kebutuhan tanaman secara jumlah dan jenis unsur hara yang dibutuhkan tanaman dalam fase generatif. Sehingga semua faktor di atas akan membuat tanaman tercukupi kebutuhannya

Agar diperoleh hasil yang optimal, beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menggunakan pupuk ABG BUNGA BUAH:

  • Harus dikocok terlebih dahulu agar kandungan dalam ABG B aktif
  • Harus dicampur dengan air
  • Gunakan pada saat pagi (jam 06.00 – 09.00) atau sore (setelah jam 16.00)
  • Jangan digunakan pada saat terik matahari/siang hari
  • Bila pada saat menjelang hujan sebaiknya dicampur dengan perekat ABG-Joss
  • Bila ada serangan hama/penyakit, bisa dicampur dengan pestisida.
  • Untuk tanaman yang tinggi (daun tidak terjangkau) harap disiramkan ke tanah sekitar

radius akar atau dengan teknik injeksi (suntik ke batang)

Selamat mencoba untuk meraih peningkatan produksi dengan menggunakan aplikasi ABG-B.

TANYA JAWAB

  • TANYA: APAKAH ABG BISA DICAMPUR DENGAN PESTISIDA?

JAWAB: BISA (DENGAN CATATAN DICAMPUR DENGAN DOSIS YANG DIANJURKAN DAN JUGA PESTISIDA KHUSUS UNTUK INSEKTISIDA  DAN TIDAK BOLEH DICAMPUR DENGAN BAKTERISIDA DAN FUNGISIDA)

  • TANYA : APAKAH PENGGUNAAN ABG BISA MENGATASI PENYAKIT TANAMAN?

JAWAB: TIDAK BISA, KARENA ABG BUKAN OBAT MELAINKAN PUPUK ORGANIK DAN NUTRISI TANAMAN. TETAPI DENGAN PEMBERIAN ABG SECARA RUTIN DAPAT MENGURANGI RESIKO TERKENA PENYAKIT, ABG DAPAT MENEKAN MIKROBA PATOGEN (KURANG MENGUNTUNGKAN) DALAM TANAHDAN PEMEEBRIAN SECARA RUTIN DAPAT MEMBERIKAN MAKANAN DAN NUTRISI YANG CUKUP UNTUK TANAMAN SEHINGGA DAPAT MENINGKATKAN KETAHANAN DAN KESEHATAN PADA TANAMAN ITU SENDIRI SEHINGGA SULIT UNTUK TERKENA PENYAKIT

  • TANYA: CARA MENCEGAH PENYAKIT DENGAN ABG-BIO

JAWAB: LARUTKAN ABG-BIO (1-2 BUNGKUS)+ 1 KG DEDAK + 5 KG ABG-BIOS+ 5 TUTUP ABG-DAUN DALAM 100 L AIR, ADUK SECARA MERATA BIARKAN 2-4 JAM. SIRAMKAN SEBANYAK 2-5 LITER/TANAMAN PADA PERAKARAN TANAMAN. PEMBERIAN 1 ATAU 2 BULAN SEKALI.

  • TANYA: BAGAIMANA APLIKASI ABG-TABLET PADA TANAMAN?

JAWAB: UNTUK TBM(TANAMAN BELUM MENGHASILKAN) DIBERIKAN 4-6 TABLET DALAM LUBANG SEDALAM 5-10 CM DENGAN JARAK 20-30 CM DARI TANAMAN PADA 3-4TITIK /TEMPAT DOSIS MENINGKAT 2-5 TABLET PER  TAHUN

UNTUK TM (TANAMAN MENGHASILKAN) DIBERIKAN 8-12 TABLET DALAM LUBANG SEDALAM 5-10 CM DENGAN JARAK 50-200 CM DARI TANAMAN PADA 6-8TITIK /TEMPAT DOSIS MENINGKAT 5-10 TABLET PER  TAHUN

(APLIKASI 2 KALI DALAM SETAHUN)

  • TANYA: BAGAIMANA CARA UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI PEMUPUKAN ABG DAN PESTISIDA PADA MUSIM HUJAN?

JAWAB: GUNAKAN ABG-JOSS YANG MERUPAKAN KONSENTRAT SENYAWA ORGANIK NON IONIK DAN NON TOKSIS UNTUK MENINGKATKAN EFISIENSI PEMUPUKAN MELALUI DAUN, PENGGUNAAN PESTISIDA DAN MEMUDAHKAN PENYERAPAN NUTRISI/BAHAN AKTIF DARI PESTISIDA

APLIKASI 3-4 TETES/TANGKI SPRAYER 15 L, DICAMPURKAN KE DALAM TANGKI YANG TELAH BERISI PUPUK ABG ATAU PESTISIDA.